Rabu, 04 September 2019

Resensi Buku Antropologi Wayang

“ Antropologi WAYANG”


1.      Identitas Buku
Penulis               : Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum.
Penerbit             : Morfalingua
Cetakan             : Pertama, 2017
Tebal Buku        : XII + 208 halaman, 25 cm


1.      Pembukaan
Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum., mempelajari sastra dan budaya Jawa di IKIP Yogyakarta, selesai tahun 1989. Dia sering menggunakan nama samaran Suwardi Endraswara dalam berbagai buku dan seminar. Ia dipercaya menjadi staf pengajar di almameternya, yang sekarang menjadi program studi Pendidikn Bahasa Jawa, FBS UNY. Ia menyelesaikan S-3 di UGM, dengan memperdalam teks-teks mistik kejawen (2011). Pernah bekerja sebagai guru SPG 17 III Bantul selama tiga tahun, redaksi majalah Mekar Sari selama dua tahun, juga pernah menjadi ketua penyunting majalah sastra Jawa Pagagan.
Sekarang, ia menjdi redaksi pelaksana majalah Sempulur Dinas Kebudayaan DIY, Seksi publikasi HISKI Komda DIY, Koordinator Pembinaan Sanggar Sastra Jawa Yogykarta, anggota dewan presidium Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), Ketua Kesawa ( Keluarga Alumni Bahasa Jawa), Ketua Rumpun Sastra FBS UNY, Ketua ATL Komda DIY, Sekretaris Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (Ikabudi), Ketua Penyunting Jurnal Kejawen. Profesi lainnya adalah sebagai pranatacara manten gaya “nyastra” dan pengarang cerkak, cerbung, geguritan, novel, dongeng, dan esai berbahasa Indonesia dan Jawa.


1.      Tubuh / Isi
Buku Antropologi Wayang ini menggambarkan seluk beluk wayang dari sisi antropologi. Wayang adalah simbol hidup manusia. Manusia sering berpikir mistik juga elalui tokoh wayang. Berbagai lakon wayang selalu terkait dengan mistisisme kejawen. Itulah sebabnya, menonton wayang akan memahami tiga hal, yaitu (!) tontonan, (2) tatanan, (3) dan tuntunan hidup. Wayang merupakan gambaran hidup manusia, yang secara antropologis sering menampilkan aneka ragam tuntutan dalam realitas kehidupan.
Melalui buku ini, pembaca diharapkan akan mampu memahami hidup manusia lewat kisah-kisah wayang. Yang menarik, dalam buku ini diberikan teori antropologis untuk memahami wayang. Yang unik lagi, bahwa setiap genetika wayang mengemban ideology kejawen. Wayang merupakan renungan kehidupan manusia Jawa.
Kelebihan buku ini, dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Penulis juga menjelaskan secara detail mulai dari antropologi wayang, teori apresiasi antropologi wayang, antropologi sebagai tontonan dan tuntunan, antropologi tokoh wayang, antropologi kepemimpinan jawa dalam wayang, antropologi etika dalam wayang jawa, antropologi budaya pemilu legislatif gaya (Sengkuni, Semar, dan Wahyu Makutharama), antropologi tokoh punakawan, antropologi seks dan perselingkuhan dalam sastra wayang, antropologi kejawen memandang perang kembang, dan antropologi budaya pop dan ideologi kejawen dalam wayang.
Kekurangan buku ini, tidak adanya gambar ilustrasi yang mewakili setiap pembahasan, kurangnya variasi bentuk bacaan, sehingga bacaan serasa datar dan daya tarik pembaca terhadap buku ini dirasa kurang.
2.      Penutup
Dianjurkan untuk membaca buku ini, baik usia remaja, dewasa, orang tua, terlebih untuk pelajar dan mahasiswa, karena didalamnya disajikan ilmu-ilmu  perwayangan yang sangat lengkap dan tentunya sangat bermanfaat untuk wawasan dan pelestarian budaya Jawa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar