1. Identitas Buku
Penulis : Prof. Dr. Suwardi Endraswara,
M.Hum.
Penerbit : Morfalingua
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal Buku : XII + 208 halaman, 25 cm
1.
Pembukaan
Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum.,
mempelajari sastra dan budaya Jawa di IKIP Yogyakarta, selesai tahun 1989. Dia
sering menggunakan nama samaran Suwardi Endraswara dalam berbagai buku dan
seminar. Ia dipercaya menjadi staf pengajar di almameternya, yang sekarang
menjadi program studi Pendidikn Bahasa Jawa, FBS UNY. Ia menyelesaikan S-3 di
UGM, dengan memperdalam teks-teks mistik kejawen (2011). Pernah bekerja sebagai
guru SPG 17 III Bantul selama tiga tahun, redaksi majalah Mekar Sari selama dua
tahun, juga pernah menjadi ketua penyunting majalah sastra Jawa Pagagan.
Sekarang, ia menjdi redaksi pelaksana
majalah Sempulur Dinas Kebudayaan DIY, Seksi publikasi HISKI Komda DIY,
Koordinator Pembinaan Sanggar Sastra Jawa Yogykarta, anggota dewan presidium
Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), Ketua Kesawa ( Keluarga Alumni Bahasa Jawa),
Ketua Rumpun Sastra FBS UNY, Ketua ATL Komda DIY, Sekretaris Ikatan Dosen
Budaya Daerah Indonesia (Ikabudi), Ketua Penyunting Jurnal Kejawen. Profesi lainnya
adalah sebagai pranatacara manten gaya “nyastra”
dan pengarang cerkak, cerbung, geguritan, novel, dongeng, dan esai berbahasa
Indonesia dan Jawa.
1. Tubuh / Isi
Buku Antropologi Wayang
ini menggambarkan seluk beluk wayang dari sisi antropologi. Wayang adalah
simbol hidup manusia. Manusia sering berpikir mistik juga elalui tokoh wayang. Berbagai
lakon wayang selalu terkait dengan mistisisme kejawen. Itulah sebabnya,
menonton wayang akan memahami tiga hal, yaitu (!) tontonan, (2) tatanan, (3)
dan tuntunan hidup. Wayang merupakan gambaran hidup manusia, yang secara
antropologis sering menampilkan aneka ragam tuntutan dalam realitas kehidupan.
Melalui buku ini,
pembaca diharapkan akan mampu memahami hidup manusia lewat kisah-kisah wayang. Yang
menarik, dalam buku ini diberikan teori antropologis untuk memahami wayang. Yang
unik lagi, bahwa setiap genetika wayang mengemban ideology kejawen. Wayang merupakan
renungan kehidupan manusia Jawa.
Kelebihan buku ini,
dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Penulis juga
menjelaskan secara detail mulai dari antropologi wayang, teori apresiasi
antropologi wayang, antropologi sebagai tontonan dan tuntunan, antropologi
tokoh wayang, antropologi kepemimpinan jawa dalam wayang, antropologi etika
dalam wayang jawa, antropologi budaya pemilu legislatif gaya (Sengkuni, Semar,
dan Wahyu Makutharama), antropologi tokoh punakawan, antropologi seks dan
perselingkuhan dalam sastra wayang, antropologi kejawen memandang perang
kembang, dan antropologi budaya pop dan ideologi kejawen dalam wayang.
Kekurangan buku ini, tidak
adanya gambar ilustrasi yang mewakili setiap pembahasan, kurangnya variasi
bentuk bacaan, sehingga bacaan serasa datar dan daya tarik pembaca terhadap
buku ini dirasa kurang.
2. Penutup
Dianjurkan untuk
membaca buku ini, baik usia remaja, dewasa, orang tua, terlebih untuk pelajar
dan mahasiswa, karena didalamnya disajikan ilmu-ilmu perwayangan yang sangat lengkap dan tentunya
sangat bermanfaat untuk wawasan dan pelestarian budaya Jawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar